Menulis bagian dari mahasiswa
Menulis bagian dari Mahasiswa
Bicara tentang keadaan mahasiswa sekarang ini emang sudah berbeda
dengan mahasiswa pada keadaan masa lalu. Mahasiswa yang dulu dipandang sebagai
Agent Of Change sekarang mulai tergerus oleh keadaan zaman yang berubah, serta gaya
hidup dari mahasiswa itu sendiri yang mulai beralih kiblatnya. Sekarang dah jarang
di pojok kampus-kampus adanya kegiatan diskusi mahasiswa. Kebanyakan dari
mahasiswa sekarang berangkat kuliah, duduk ngrumpi dengerin dosen pulang lagi,
ada pula yang hanya mencari absensi, ada pula yang dari pada nggaur di kos
nggak ada kegiatan, berbagai gaya hidup yang sekarang ini bisa kita lihat dari cerminan mahasiswa
sekarang ini, sungguh ironis bukan.
Terus kita sebagai bagian dari mahasiswa yang mana..? apa juga
termasuk mahasiswa yang seperti itu. Harapanya pasti jadi mahasiswa yang benar-benar menjadi sosok
generasi penerus bangsa ini, untuk melanjutkan cita-cita para pahlawan untuk
mencapai kesejahteraan serta kemajuan dalam segala hal, terciptanya stabiltas,
ekonomi mapan, serta tegaknya peradilan dan yang terpenting sebagai penyalur
aspirasi rakyat bawah.
Itu
semua bisa kita dapatkan mana kala kita dalam mengemban amanah ini kita jalankan
dengan sungguh-sungguh, berfikir kedepan, serta kita sadari bahwasanya rakyat
menaruh harapan besar terhadap kita. Ada banyak hal untuk mewujudkan itu semua.
Dan dalam menyampaikan sebuah gagasan, kritikan, ataupun mengkritisi kebijakan
pemerintah, disini saya penulis lebih cenderung kearah penulisan lewat
karya-karya. Bukanya penulis tidak menghargai demokrasi dalam mengeluarkan
pendapat dengan demonstrasi atau aksi-aksi jalanan, tetapi setiap mahasiswa
dalam kapasitas sebagai insan manusia mempunyai pemikiran berbeda-beda. Karena
menurut penelitian saya terhadap beberapa civitas academika, dalam
sebuah percakapan mereka ada yang kurang suka dengan aksi demo (yang
anarkis) tetapi jika demonya tertib ada yang mengatakan sah-sah saja. Tapi
sebagian dari mereka juga mengatakan lewat sebuah karya juga sebenarnya secara
tidak langsung dapat sebagai sarana penyalur aspirasi, yang berisi kritik
membangun maka dari itu mahasiswa diera dewasa ini diharapkan mempunyai ghirah
yang besar terhadap kepenulisan, dan
dalam menulis setelah saya mewawancarai salah seorang mahasiswa pasca UIN Sunan
Kalijaga ada Trik-trik khusus Menjadi Penulis Yang Baik,
berikut penuturanya,
“Menjadi penulis itu bukanlah sesuatu
yang sulit. Sebab hal ini adalah termasuk ketrampilan yang bisa dilatih dan
diupayakan. Tergantung ada kemauan atau tidak. Di sinilah dibutuhkan sebuah niat dan tekad yang
kuat agar ketika menggoreskan pena bisa mencurahkan isi fikiran kita dengan
lancar, bagai turunnya hujan yang deras. “
Langkah
pertama adalah kita harus banyak membaca. Ini syarat yang tak bisa ditawar.
Sebab hakekatnya manusia itu mirip komputer. Jika banyak diisi dengan file yang mengandung ilmu
pengetahuan, maka ketika diminta outputnya tentu akan mengeluarkan apa yang
disimpannya. Atau mirip sebuah teko. Jika teko itu kosong maka dituang sampai
nungging poll, mustahil akan keluar isinya setetespun sebab tak pernah diisi.
Jika dipenuhi dengan air kopi maka akan keluar air kopi, diisi air teh akan
keluar air teh, bahkan jika diisi dengan air got maka akan keluar juga air got.
Berdasarkan
perumpamaan itu maka selayaknya seorang manusia pembelajar hanya mengimput bacaan-bacaan yang baik dan
bermanfaat saja, sebab ketika ia
menuangkan idenya dalam bentuk tulisan, dikhawatirkan akan muncul isi aslinya.
Bisa direkayasa sih, tapi tentu hal demikian itu akan menjadi lebih rumit lagi
karena butuh aplikasi tambahan untuk mengolah bahan yang sudah terlanjur
dikandung. Semacam alat penyuling agar air got keluar menjadi air mineral.
Langkah
kedua adalah “paksakan” untuk menulis apa yang terlintas dalam fikiran kita.
Apapun, dan jangan terlalu merisaukan dulu kalimat atau alur ceritanya.
Pokoknya tulis…tulis…tulis… terus sampai kering ide yang ada di kepala (padahal
aku yakin tidak bakal kering). Buang jauh-jauh perasaan dan pertanyaan “kapan aku jadi penulis hebat?”. Pokoknya tulis dulu…tulis lagi…tulis dulu… tambah
lagi tulisan….
Setelah
kita melakukan goresan-goresan kalimat yang lumayan banyak, tanpa disadari kita
akan mampu mengoreksi: “Ah sepertinya kalimat ini kurang begini…..” atau “Wah,
alangkah baiknya kalau di bagian ini ditambah kalimat begini…” atau “Seharusnya
kalimat ini tidak berbunyi demikian, tetapi begini….” atau… atau… atau…. atau….
pada akhirnya: “Sip, alhamdulillaah. Sepertinya ini
sudah oke…” atau anda akan cukup
mengangguk-angguk saja seperti burung bangau ketika mengoreksi tulisan yang
anda buat itu. Dan hebatnya lagi (boleh jadi) anda akan mengigau membuat
tulisan saat anda sedang tidur. Dan di pagi harinya anda menemukan bahwa tangan
anda telah menuliskan sebuah cerita yang memukau.
Dan
akhirnya bersiaplah menjadi mahasiswa yang gemar menulis dan melahirkan
karya-karya yang bermanfaaat. Sekian terima kasih.
telah membaca itu sekarang kita lebih banyak berfikir maka membacalah ...karena membaca adalah kunci membuka jendela
BalasHapus